Festival Nyuhun Buhun Dedi Mulyadi menghidupkan tradisi kuno di Lembur Pakuan, memicu kontroversi dan perhatian publik luas.
Festival Nyuhun Buhun yang digelar Dedi Mulyadi di Lembur Pakuan pada 9–12 April 2026 menjadi sorotan publik. Tradisi kuno ini memadukan ritual adat, musik, dan tarian yang jarang terlihat. Banyak pihak mempertanyakan apakah festival ini sekadar warisan budaya atau memicu kontroversi baru di tengah masyarakat modern. Simak ulasan lengkapnya untuk mengetahui fakta menarik di balik Festival Nyuhun Buhun Dedi Mulyadi hanya di Eksplorasi Kota dan Negara.
Latar Belakang Festival Nyuhun Buhun
Festival Nyuhun Buhun digelar di Lembur Pakuan, Kabupaten Subang, pada 9–12 April 2026 sebagai upaya pelestarian tradisi Sunda. Kegiatan ini diprakarsai oleh Dedi Mulyadi, tokoh yang dikenal aktif memperkenalkan budaya lokal. Lembur Pakuan, kampung halaman Dedi Mulyadi, telah dikembangkan menjadi pusat kegiatan budaya dan pariwisata. Sebelumnya wilayah ini menarik banyak perhatian wisatawan dan warga Jabar.
Tradisi Nyuhun Buhun mencerminkan upaya komunitas lokal menghormati leluhur dan nilai kearifan budaya yang diwariskan turun-temurun. Aktivitasnya melibatkan ritual, seni, dan pertunjukan rakyat. Festival ini menjadi medium budaya yang mempertemukan sejarah, seni tradisional, dan konteks modern masyarakat Jawa Barat. Panitia berharap tradisi ini tetap hidup bagi generasi mendatang.
| POSVIRAL hadir di saluran whatsapp, silakan JOIN CHANNEL |
🔥 Ayo Rasakan Serunya Piala Dunia 2026!
Nonton semua pertandingan tanpa batas lewat
LIVE STREAMING GRATIS di
Aplikasi Shotsgoal.
📲 DOWNLOAD SEKARANG
Ragam Acara Dan Tradisi Yang Diperagakan
Festival Nyuhun Buhun menampilkan beragam acara budaya, termasuk pertunjukan wayang golek yang mewakili seni pertunjukan tradisional Jawa Barat. Selain itu, ada arak-arakan budaya yang diikuti warga dan kelompok seni, memperlihatkan seni jalanan tradisional dan kostum khas. Arak-arakan ini menjadi pusat keramaian festival.
Kegiatan lain termasuk pameran kesenian lokal, kuliner tradisional, dan ruang ekspresi bagi seniman muda. Semua elemen dirancang untuk menarik minat masyarakat luas. Pengunjung dapat belajar sejarah tradisi Nyuhun Buhun melalui pameran budaya dan diskusi. Kegiatan edukatif ini menawarkan pemahaman baru tentang nilai budaya Sunda.
Baca Juga: Pemujaan Dewi Ibu Di Kuil Gie Sen, Tradisi Yang Bikin Penonton Terperangah!
Peran Dedi Mulyadi Dalam Budaya
Dedi Mulyadi dikenal sebagai tokoh yang aktif mempromosikan budaya lokal. Ia memiliki latar belakang politisi dan aktivis budaya yang berakar kuat pada tradisi Sunda. Sebagai penggagas festival, Dedi menempatkan budaya sebagai bagian penting dari jati diri masyarakat Jawa Barat dan upaya memperkuat nilai lokal di era modern.
Keputusannya menggelar Nyuhun Buhun mendapat dukungan dari kelompok seni dan komunitas adat. Festival ini menjadi wadah berkumpulnya pegiat budaya dari berbagai daerah. Namun, peran tokoh publik dalam mempopulerkan tradisi adat juga menimbulkan beragam tanggapan publik, sebagian melihatnya penting, sebagian mempertanyakan interpretasi ritual.
Reaksi Masyarakat Dan Kritik Yang Muncul
Festival ini mendapat respon beragam dari masyarakat lokal dan pengunjung. Sebagian besar menyambut positif karena memberi ruang apresiasi budaya tradisional. Kritik muncul soal cara penyelenggaraan dan interpretasi acara, dengan beberapa pihak menilai elemen festival terlalu dimodifikasi untuk menarik perhatian massa.
Diskusi di media sosial dan komunitas budaya menunjukkan pandangan berbeda tentang batas pelestarian tradisi dan adaptasi kontemporer. Meski begitu, festival tetap ramai dikunjungi keluarga, seniman, dan wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tradisi lokal di Subang.
Implikasi Budaya Tradisi Nyuhun Buhun
Festival Nyuhun Buhun memberi peluang penguatan identitas budaya masyarakat Sunda dan potensi pariwisata budaya di Jawa Barat. Dengan meningkatnya minat publik, perhelatan tahunan ini membantu generasi muda mengenal akar budaya mereka, sekaligus memberi ruang ekspresi bagi pelaku seni tradisional.
Pemerintah daerah dan komunitas adat kemungkinan akan terus merumuskan program pengembangan budaya yang lebih inklusif, sehingga acara seperti ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga penghubung antar masyarakat. Upaya pelestarian tradisi, jika dilakukan secara berkelanjutan dan sensitif terhadap konteks sosial modern, diharapkan menjaga nilai lokal tanpa kehilangan relevansi bagi masyarakat kontemporer.
Sumber Informasi Gambar:
- Gambar Pertama dari
- Gambar Kedua dari